Trading Forex Online
Klik Disini untuk Trading Forex Online secara Benar dan Aman

Mengapa Penting Untuk Meregulasi Valuta Asing

 

Pasar valuta asing (foreign exchange – valas) adalah pasar keuangan terbesar di dunia sejauh ini. Menurut survei tiga tahunan Bank for International Settlements’ (BIS), omset forex dunia pada bulan April 2010 rata-rata $4 triliun setiap hari, meningkat 20% dari $3.3 triliun pada tiga tahun sebelumnya. Dalam perekonomian yang semakin mengglobal, pentingnya pasar valuta asing untuk konsumen tidak dapat diremehkan. Tingkat di mana mata uang domestik kita bisa ditukar di pasar forex global yang menentukan harga yang kita bayar untuk meningkatkan jumlah produk, harga untuk liburan, tingkat pengembalian investasi (return on our investments (ROI)) dan bahkan suku bunga pinjaman dan deposito.

Namun, meskipun pasar ini penting – di mana perputaran mata uang bisa mendikte nasib semua orang dari negara terbesar hingga terkecil – valuta asing tetap menjadi bisnis yang sebagian besar tidak diregulasi. Meskipun valuta asing secara tradisional dianggap sebagai domain eksklusif dari bank dan perusahaan terbesar, tren terbaru telah mementahkan gagasan ini, sehingga semakin penting arti regulasi ini untuk pertukaran asing.

Spekulasi Merajalela
Transaksi di pasar valuta asing dapat secara luas diklasifikasikan menjadi dua jenis – komersial dan spekulatif. Transaksi komersial adalah transaksi yang didukung oleh kegiatan ekonomi, seperti pembayaran untuk impor atau pinjaman ke entitas luar negeri. Transaksi spekulatif, di sisi lain, adalah transaksi yang dilakukan murni untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan mata uang.

Transaksi spekulatif jauh melampaui transaksi komersial di bidang valuta asing, dan transaksi ini telah menyumbang bagian yang lebih besar dari volume perdagangan forex selama bertahun-tahun. Juga, volume perdagangan mata uang pada tahun 1970 hanya sekitar enam kali nilai perdagangan global barang dan jasa. Tapi pada tahun 1995, volume perdagangan forex harian sebesar $1,2 triliun, sekitar 50 kali nilai perdagangan global barang dan jasa.

Volume perdagangan Forex meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak itu, sebagian besar didorong oleh spekulasi. Sebuah penelitian yang didasarkan pada survei BIS 2010 menemukan bahwa rasio perputaran forex terhadap produk domestik bruto (PDB- gross domestic product (GDP)) – indikator yang baik untuk mengukur kegiatan spekulatif – berkisar dari sekitar 14 untuk Amerika Serikat dan Jepang hingga 200 untuk Inggris dan lebih dari 300 untuk Singapura. Juga, meskipun peningkatan 20% dalam volume forex harian antara 2007 dan 2010, transaksi komersial oleh perusahaan dan pemerintah justru mengalami penurunan sebesar 10% selama periode ini. Transaksi komersial menyumbang hanya 13% volume forex harian total pada 2010, pangsa terendah sejak tahun 2001.

Pada laporan yang membingungkan, studi ini juga menemukan bahwa lonjakan aktivitas perdagangan forex sebagian besar didorong oleh “lembaga keuangan lainnya”, kategori luas yang mencakup bank-bank kecil, investor institusi – institutional investors, perusahaan asuransi, bank sentral dan investor ritel – retail investors. Dua kelompok utama pendorong pertumbuhan dalam kategori ini adalah perdagangan frekuensi tinggi (high-frequency trading (HFT)) dan perdagangan online oleh investor ritel, yang tercatat sebesar masing-masing 25% dan 8-10% di $1.5 triliun pasar spot valas.

Pedagang Ritel – Waspadalah Dengan Tren ini
Online trading forex oleh investor ritel telah berkembang pesat sejak tahun 2007, dengan transaksi yang berkontribusi sekitar $125 miliar hingga $150 miliar dalam omset harian forex. Iming-iming keuntungan dari spekulasi terhadap pergerakan nilai tukar jelas merupakan hal yang kuat. Tetapi sebelum Anda memutuskan untuk mengikuti spekulasi tersebut, pertimbangkan juga kelemahannya. Terlepas dari kelemahan yang jelas seperti kerugian besar karena pemanfaatan yang berlebihan dan penipuan, investor ritel juga harus berhadapan dengan faktor-faktor beresiko berikut ini:

  • Volatilitas tinggi: Lonjakan pada kegiatan spekulatif, terutama perdagangan frekuensi tinggi didominasi oleh perdagangan komputerisasi atau algoritma, dapat menyebabkan volatilitas mata uang yang lebih tinggi, yang meningkatkan resiko kerugian bagi investor kecil atau pedagang.
  • Kekurangan Informasi: Investor ritel memiliki kerugian yang berbeda di pasar forex global yang sebagian besar tidak diregulasi, karena mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan informasi tentang transaksi komersial besar dan arus modal hanya tersedia bagi pemain terbesar yang mendominasi pasar. Asimetri informasi ini membuat sulit investor ritel untuk mendapatkan semua jenis keuntungan yang bisa melebihi para profesional.

Peraturan Forex ritel

Tidak adanya peraturan regulasi di pasar forex dalam beberapa tahun sebelumnya dan cepatnya pertumbuhan perdagangan forex di kalangan investor ritel menyebabkan peningkatan pengawasan dan regulasi oleh lembaga-lembaga seperti Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Di bawah lembaga Exchange Act Komoditi (CEA), CFTC memiliki yurisdiksi atas transaksi leverage forex yang ditawarkan kepada nasabah ritel di Amerika Serikat. Undang-undang ini hanya mengizinkan entitas yang teregulasi untuk bertindak sebagai counterparty dalam transaksi forex dengan pelanggan ritel, dan mengharuskan semua dealer forex online untuk didaftarkan dan memenuhi standar keuangan yang ketat yang diberlakukan oleh National Futures Association (NFA).

Untuk trader forex ritel, risiko terbesar untuk trading di badan yang tidak ter-regulasi adalah aktivitasnya yang ilegal dan penipuan. Kegiatan penipuan, termasuk komisi yang berlebihan yang dihasilkan oleh “perputaran” rekening nasabah, tekanan tinggi taktik “boiler room”, skema Ponzi dan adanya kesalah pahaman. Hampir sebanyak 26ribu orang di Amerika Serikat telah tertipu dan kehilangan $460 juta dalam kasus penipuan yang terjadi pada 2001 dan 2007, dan kejadian tersebut menjadi alasan bagi lembaga CFTC untuk membentuk suatu penelitian khusus pada tahun 2008 untuk menangani masalah ini.

Peraturan yang ketat diberlakukan di Amerika Serikat pada tahun 2010 untuk melindungi trader forex ritel telah menjadi korban penipuan di sebagian besar negara. Namun, regulasi terebut juga digabungkan dengan peraturan lain yang berlaku di negara yang bersangkutan. Di Jepang yang merupakan pasar forex ritel yang paling aktif di dunia, Financial Services Authority (FSA) membuat peraturan untuk semua pasar termasuk ritel valuta asing. FSA proaktif dalam mengatur perdagangan forex ritel. Sebagai contoh, FSA mengurangi leverage maksimum yang tersedia bagi trader forex ritel yaitu 25:1 pada Agustus 2011, setelah adanya pemotongan ke 50:1 tahun sebelumnya. Di Inggris dan benua Eropa, regulasi dan leveragenya memiliki beberapa perbedaan, yaitu leveragenya 200:1.

Tapi regulasi pasar forex ritel , mewakili kurang dari 5% dari rata-rata omset harian forex seluruh dunia, ibaratnya hanyalah sebagai puncak gunung es. Bagaimana dengan isu non-regulasi di pasar forex institusional raksasa?

Peraturan Juga Diperlukan Untuk Investor

Di sisi kelembagaan, bank sentral lokal bebas mengatur pasar mata uang mereka. Namun, tidak ada regulator global yang mengawasi pasar forex di seluruh dunia. Pasar forex juga memerlukan peraturan untuk sejumlah alasan, termasuk:

Tingginya biaya hedging: Peningkatan volatilitas mata uang yang disebabkan oleh spekulasi yang berlebihan menyebabkan biaya yang lebih tinggi yang dikeluarkan oleh perusahaan dan pemain komersial lainnya untuk melindungi nilai mata uang.

Pentingnya sistemik Bank Besar: Sementara kerugian trading forex tidak terlalu menonjol, namun ada potensi kerugian miliaran dolarjika salah melakukan order di salah satu mata uang tertentu. Meskipun perdagangan mata uang adalah zero-sum game, kerugian besar yang dikeluarkan oleh sebuah bank besar bisa memiliki efek riak pada ekonomi global karena pentingnya sistemik.

Memang benar pergerakan mata uang dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara. Meskipun langkah tersebut dibenarkan oleh fundamental ekonomi yang mendasari dalam beberapa kasus, di banyak kasus lain kelemahan sementara dalam mata uang dapat dimanfaatkan dengan kejam oleh spekulan. Hal ini dapat memicu pelarian modal dan resesi berkepanjangan dipicu oleh naik nya suku bunga secara drastis untuk mempertahankan mata uang. Skenario ini telah dimainkan pada beberapa kesempatan selama dua dekade terakhir, contoh, runtuhnya baht Thailand pada bulan Juli 1997 dan krisis Asia berikutnya. Sementara spekulan mata uang meraup keuntungan, jutaan orang di negara-negara yang terkena dampak mengalami kerugian besar dan pengangguran dalam jangka waktu yang lama.

Kesimpulan

Sebuah peraturan sangat penting. Namun, setiap usulan memperkenalkan peraturan untuk pasar forex sangat mungkin menghadapi oposisi berat oleh pedagang mata uang utama. Sebagai seorang pemilik bisnis atau investor, terkadang anda dibolehkan untuk melakukan perdagangan forex untuk melindungi nilai mata uang untuk bisnis Anda atau portofolio investasi. Tapi hati-hati tentang risiko forex trading spekulatif.

Dengan memanfaatkan leverage yang tersedia sebesar 50:1 yang tersedia pada pasangan mata uang utama di AS, risiko yang jelas dihadapi oleh trader forex ritel AS adalah kerugian pasar semakin didominasi oleh aktivitas spekulatif dan lembaga-lembaga besar. Namun, pasar forex non-regulasi – yang menyumbang lebih dari 95% dari omset harian forex – menimbulkan risiko tambahan untuk investor ritel. Hal ini termasuk volatilitas mata uang  yang lebih tinggi dan asimetri informasi, yang bisa dibilang dapat ditingkatkan dengan peraturan pasar. Peningkatan regulasi mungkin sebagian besar telah mengurangi insiden penipuan di sektor ritel forex, tetapi pasar forex non-regulasi memberikan kontribusi signifikan terhadap peluang investor forex ritel. (Zou, Pr, Dn)

Leave a Reply

Referensi oleh Valas Online